Mesin Pencari Paling Andal

Selasa, 30 September 2008

T-MATCH FOR FM ANTENNA



Penyesuai Impedansi antenna dengan T-Match banyak digunakan pada Antena Amatir 2 meter band.Terutama jenis antena Yagi. Prinsip dasar antena terlihat seperti pada gambar.






106 komentar:

  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri,.... Kalau boleh saya komentari tentang Antena dengan T-Macth sebagai penyesuai impedasi, pada gambar tertera saya rasa ada yg kurang tepat, yaitu adanya C ? trimer, seharusnya C tersebut gak usah dipasang atau dengan kata lain dilepas saja, adapun penyesuaianya dengan jalan menggeser ke2 shorter kedalam atau keluar sehingga didapatkan SWR seminimal mungkin. Matur nuwun.....

    BalasHapus
  2. Selamat idul fitri juga, terimakasih infonya dalam kasus tertentu mungkin C tak perlu dipasang, tetapi kadang2 juga diperlukan jika SWR tak bisa turun. Pada band 2m C biasanya digantikan dengan efek kapasitansi dari inner + dielektrikum RG-8 yang di masukkan di Gamma Rod.

    BalasHapus
  3. waduh koreksi lagi nich.....pada sistem T-match C tertera pada gambar mutlak tidak diperlukan boss.... lain lagi kalau anda menggunakan sistem gamma match mutlak perlu nilai C pada penyesuai impedasinya. Pada sistem T-Match digunakan apa yg dinamakan Balun 4;1 ( Balun = Balance to Unbalance ) yg mana terbuat dari kabel Coaxial sepanjang 0.5 lamda / disesuaikan dengan Vf kabel tersebut. Fungsi Balun sendiri sebagai penyesuai / penurun impedasi yg semula pada feed poin Balance 300 omh menjadi 50 omh unbalance. Jadi disini C tidak diperlukan, kalaupun nilai SWR gak mau turun itu banyak faktor penyebabnya al; panjang balun yg kurang tepat, panjang dipole yg gak benar pada frekwensi kerjanya dll. Suwun ...mudah mudahan bisa menjadi pencerahan bagi pemula pemula yg lain ok....

    BalasHapus
  4. thanks atas penjelasannya...dan jangan bosan2 kasih koreksi.
    Mungkin teman2 perlu juga membaca teori tentang
    penyesuai impedansi gamma dan T di ARRL Handbook, chapter 19-4 tentang transmission lines, kemudian chapter 20-18 Antennas for high frequency, dan Chapter 21-3 vhf and uhf antennas

    BalasHapus
  5. saya kira tetep butuh c

    thanks

    BalasHapus
  6. Mungkin lebih jelasnya mengenai antena dipole dg sistem T-Match ini, saudara bisa lihat secara detail pada model Cuscraft. Jadi mengenai butuh C atau tidak bisa jelas. Bertahun tahun (lebih dari 15 tahun)saya mempelajari/menggeluti antena berbagai model gak ada C pada antena jenis T-Match ini. Mungkin bagi pemula yg baru kemarin sore dolanan antena akan ada tanya begini " wahhh kalau gak pakai C berarti konsleting atau shorts terus final-nya putus atau jebol..!!!!" itu barang kali pertanyaan yg sering muncul. Kami paham... nah disinilah seninya dolanan antena.Begini Kawan...akan saya jelaskan pada sistem ini secara singkat dan tidak bertele-tele agar mudah dipahami.... pada sistem ini (lihat gambar) ada kabel 1/2 lamda yg berfungsi sebagai penyesuai impedasi, yg mana sebelum kabel tersebut dipasang akan diperoleh nilai impedasi 300 omh balance atau seimbang. Padahal kebutuhan kita akan impedasi yaitu 50 omh unbalance sesuai dengan output pemancarnya, nahhh.. kabel atau penyesuai impedasi 1:4 inilah yg akan merubah menjadi 50 ohm walaupun tanpa C. Dan kalau kita perhatikan tentunya akan konsleting atau short, yaaa benar memang short, namun bukan sembarang short..., tetapi mempunyai nilai impedasi lebih kurang 50 ohm. Inilah yg dimaksud dengan sistem DC Grounded. Kami jamin aman asal dengan prosedur yg benar. Jadi kalau kita ukur dengan AVO meter antara Inner dan Ground memang short dengan nilai 0,000- sekian omh, namun kalau kita ukur dengan Antena analizer akan diperoleh nilai lebih kurang 50 ohm. Harus dipahami dulu pengertian nilai Omh pada R (resistor/hambatan) dan Omh pada sistem impedasi. Ok...saya kira sudah cukup jelas. Nambah dikit nich... hampir semua antena FM Broadcast sebagain besar mempergunakan sistem DC Grounded seperti yg saya maksud, baik itu OMB , Sira dll. Jadi memang benar benar short.... ok...jelas bukan ??? opo malah bigung...????? lain waktu saya sambung lagi.....

    BalasHapus
  7. Saya tambahin Mas Alex:
    DC grounded maksudnya adalah jika antena kita umpani dengan tegangan DC ( frekuensi = 0 Hz ) maka sirkuit adalah short atau hubung singkat. Berbeda jika antena kita umpani dengan sinyal berfrekuensi tinggi, maka antena mempunyai reaktansi induktif dan kapasitif ( impedansi ) satuannya OHM. Jadi nggak short lagi. Impedansi tidak bisa diukur dengan OHM meter. Untuk melihatnya kita percayakan pada alat Antenna Analyzer, MFJ 259 misalnya.
    Contoh Paling mudah adalah speaker audio , speaker akan berimpedansi 8 ohm bila dimasuki sinyal audio, dan akan short kemudian putus kawat spulnya jika kemasukan tegangan DC.

    Dengan DC Grounded , jika antena disambar petir, tegangannya akan langsung menuju ground. Daripada lewat kabel transmisi kita. Sehingga relatif aman bagi pemancarnya.
    bagaimana setuju nggak ya?

    Ada koreksi mas Alek,
    seharusnya impedansi sebelum balun adalah 200 OHM bukan 300 OHm, khan 300/4 ketemunya 75 ohm, sedangkan kabel transmisinya adalah 50 ohm. walaupun nggak lazim, kita sering terjebak jika antena balans selalu berimpedansi 300 OHM.

    BalasHapus
  8. weq...kekkekekekeeke...iyo salah ketik 200 mestinya...thanks...bos... antena ...antena... OMB...Sira...dll tersedia...hahahahhahahahaha...

    BalasHapus
  9. sedia antenna khatrein, jampro, sira juga saya hehe...

    BalasHapus
  10. Dengan prinsip kerja antena maka yang milih pakai c atau tidak pakai c ngak ada masalah.Tapi kalau sudah bicara dalam ruang lingkup penepatan/penyesuaian maka sang komponen c mungkin harus mengambil posisi. Bagi RF ada atau tidak c disitu tetap aja RF akan sampai pada konduktor(antena) dan mengubahnya menjadi gelombang elektromagnetic (gem). Nah kalau bicara safety dengan petir yah... lebih aman dikitlah yang DCgrounded(tanpa c)ha...ha..ha . Eh kelupaan balunnya itu jangan pakai kabel yang 75ohm-nya TV dirumah ya apalagi saluran transmisi ke pemancar pakai coax 50 ohm yang gede. Hormat bagi para sesepuh pembuat antena pemancar fm

    BalasHapus
  11. @ bolis:
    thanks bro commentnya...jangan bosan mampir sini lagi.
    salam

    BalasHapus
  12. weh sepp juga ini artikel maksaih pak win bisa nambah ilmu nih

    salam dari durenan trenggalek ( Brawijaya elektronik depan apsar durenan )

    http://www.radiomadufm.com
    strimeng http://live.radiomadufm.com:8550/listen.pls



    saya coba bikin antena kayak ini pak win

    http://www.radiomadufm.com/index.php?name=coppermine&file=displayimage&album=9&pos=0


    ym = madufm_trenggalek@yahoo.co.id

    081335465603

    BalasHapus
  13. Mas wedhus gembel,ttg antena T mach itu pakai conensator itu benar adanya.Antena yang tergambar dan dari beberapa buku juaga car menggambarkannya demikian adanya. Hanya saja dalam prakteknya shorter menggantikan condensator trimer. Itu artinya c Variabel/trimernya ya shorternya itu untuk mencari kapasitansi yang memadai sehingga tercapai matching. Bukankah prinsip pembuatan condensator dengan menghadapkan/memparalelkan dua logam dengan spasi isolator? Untuk pengujian, bila ada VFO VHF/Sejenis,varconya dicopot dan diganti dengan shorter buatan anda and bila bergeser geser frekuensinya itulah c variabel ciptaan anda lagi bekerja.Dan prinsip dari resonansi adalah kerja sama antara c dan L,begitu mas kira -kira. Jadi bagi saya Baik elemen yagi maupun T Match tetap ada unsur condensatornya walau ujudnya batangan/shorter.

    BalasHapus
  14. Sebenernya,dari teori maupun praktek, antena yang modelnya beredar disekitar kita ada dua jenis secara conecting/ penyambungan,yaiti DC Grounded dan Blocked condensator/Link. Dalam kasus antena Yagi maupun T Match yang membuat antena tidak short adalah adanya condensator yang terbangun oleh elemen gama match/shorter yang yang terbangun sebagai setting impedadansi dan blocked condesator. Itulah mengapa Match gak short DC,karena ada condensatornya!

    BalasHapus
  15. Mas WG,kalau kita cermati baik Tmach maupun gama match secara konstruksi maupun relatif sama saja. Hanya sajapenyertaan kabel 1/2 lamdha untuk pembalik fasa dan menurunkan impedansi dikarena pengaktifan dua shorter yang memang menambah tinggi impedansi . Tapi ,secara prinsip tetap saja adanya andil condensasi dari iner RG 8 yang menyertainya untuk kedua batangan shorter yang menyertainya, hanya fasa saling terbalik. Jadi T Matc pada dasarnya dua gama Match yang disatukan dalam satu batang,berhubung impedansinya naik diturunkan dengan memparalelkan RG 8 setengan lamdha sekaligus untuk membalikan fasanya.

    BalasHapus
  16. sejujurnya saya amati,kalau parnyataan mas win memang logis banget. Disisi lain paparan wedus gembel didasari pengalaman praktek.Adanya sudut pandang berbeda tapi sebenarnya mas WG tetep tunduk sama rumus resonansi yang tak mungkin terhindarkan. Cara baca skema yang berbeda menjadi ukuran kalau mas WG ini banyak praktek walau (maaf)rada mengingkari teori.Secara tidak sadar sebenarnya telah membuat condensator Variable dari batang alumunium dengan inti inner RG8 dan isolatornya sebagai deelektriknya,sementara pergeseran shorter semata-mata untuk menentukan kapasitansi dari c yang diperlukan, Disisi lain bila kita buat batangan paten yang dishort tetap dan diseri dengan C variabel antena juga bekerja baik. Hanya saja kondisi ini rada merepotkan harus pakai boks tahan hujan,dan buktinya penyerian c ini jauh fleksibel karena nilainya mudah diatur,itu artinya secara teori dan praktek skema tersebut benar adanya. Jadi sebenarnya selama 15 tahun juga anda telah bermain-main dengan C yang secara tak sadar anda membuatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mas,,dikarenakan orang pada terkecoh dengan gambar diatas,dengan kenyataanya yang kebanyakan ant T match C nya telah tergantikan dengan iner rg 8,,dan dengan menggeser shoting bar, untuk mendapatkan C yg pas shingga swr bisa diharapkan 1

      Hapus
  17. Mas ikut menyela yah,penjelesan tentang antena DIPOLE DENGAN SISTEM T MATCH,bisa membingungkan lho! Tolong cermati benar skemanya lho mas WG. Antena Dipole biasanya terbangun dari elemen yang melipat,matrialnya terkoneksi secara DC karena ujung ujungnya bertemu (seperti kunci),mengingat impedansi ratusan ohm diturunkan dengan penambahan RG 8 setengah lamdha untuk menurunkannya.Karena keduanya mempertemukan eleman berlogam(tanpa spasi isolator)Maka antena ini dalam kategori DC Grounding. Sementara Tmatch (seperti pada gambar)walaupun sama-sama pakai pakai penyelaras RG8 setengah lamdha tidak serta merta setara kerekter koneksinya mengingat sebelum diumpan feedernya diblok dulu pakai conensator(dua shorter yang terbangun dari tubing alumunium dan dalaman RG 8),itu artinya antena ini terkoneksi secara AC. Jadi pemakaian penambahan kabel RG 8 sebagai pembalik fasa dan penurun impedansi dikedua model antena tersebut seakan akan sekarakter ,tetapi beda dalam karakter koneksinya.jadi hanya dipole terlipat yang mempunyai DC grounding,sementara T Match? Amati saja skemanya,kalau gak ukur deh.

    BalasHapus
  18. terus yang bener yang mana nih??

    BalasHapus
  19. Sore mas Win
    Saya bener2 awam soal antena ttp saya mau coba bikin bisa kirim ke saya skema antena yg 5/8 lambda yg lebih di perbesar ke gusjaloe@yahoo.com a/ gmn cara bisa dapatin skema tsb
    Terima kasih sebelumnya

    BalasHapus
  20. kok gak ada artikel ttg antena 3/4 lambda ya? tambahin donk pak

    BalasHapus
  21. Smile yth......Dalam bdg teknik toleransinya rendah. Apapun yang dikatakan teori pasti pernah diuji oleh ahlinya. Dalam antena tentu tak lepas dari teori yang menyertainya. Setiap antena yang sukses dicobakan tentu hasil dari pengembangan teori yang diterapkan dlm praktek.
    Persoalannya dalam praktek ada sebagian dari kita banyak yang sukses praktek kurang teori,atau sebaliknya ada yang jago teori kesulitan praktek.Keduanya tentu perlu pendekatan sikap dilapangan. Yang kebanyakan praktek harus menyadari perlunya teori sbg pendukung,sementara yang suka teori mesti turun lapangan untuk melihat kreatifnya teman2 kita yang suka praktek.Jadi mana yang benar adalah kita2 yang tunduk pada rumus dan konsep2 yang berlaku. Jadi sebuah antena yang sukses dibangun merupakan bentuk dari kerja sama L dan C sebagai elemen utama resonansi.Artinya siapapun yang membuatnya
    pasti mengekspresikan hal demikian,walau sang perakit terkadang ingkar terhadap rumus resonansi dalam PERKATAAN tapi sebenarnya TUNDUK dalam merakitnya.Mari kita renungkan banyak teori ataukah kekenyangan praktek hingga over confidence?

    BalasHapus
  22. menurut saya memang sebaiknya tidak pake C terlalu memaksa untuk menurunkan SWR lagian power jadi terhambat broooo

    BalasHapus
  23. besar mana sih gain antara antena gama match dan t match?

    BalasHapus
  24. Oom jangan salah memaknai C dalam gama match maupun Tmath. Condensator yang dimaksud adalah istilah ini adalah perlambang saja dari elemen yang ada dalam antena gama match dan T match. C yang dimaksud SHORTER YANG DIISI INNER RG 8 ,Coba shorter diukur paka KAPASITANSI METER pasti ada nilainnya. INI MENGAPA GAMA MATCH dan T MATCH gak short kalau di ukur. Pertanyaan saya kalau anda gak suka pakai c ngapapain pakai shorter yang diisi RG 8??????,Bukankah yang tidak anda sukai adalah CONDENSATOR BUNG? atau anda salah persepsi kalau SHORTER itu bukan CONDENSATOR?

    BalasHapus
  25. Dalam desain antena ,penyambungannya terbagi dalam dua definisi,DC conecting seperti OMB,MS 1,Whip HUSTLER dll,yang kedua AC conecting yang diblock pakai condensator.
    Keduanya sangat populer disekitar kita.
    DC ANTENA,short secara DC dan berimpedansi 50 pd frekuensi tinggi(tertentu).
    AC conecting antena seperti GAMMA MATCH dan TMATCH,tidak short tapi matching karena diblok secara condensasi oleh gamma match/shortter.

    BalasHapus
  26. GELOMBANG RF,adalah sinyal bolak balik,jadi untuknya bukan suatu HAMBATAN yang berlebihan sprti sinyal DC.Pada titik resonansi dimana C bekerja justru jadi jalan tol bagi sinyal ini.
    komentar saya lainnya,Dlm antena DC grounding,adalah BUKAN KEAJAIBAN yG luar biasa BILA DIPAKAI GAK SHORT,ini berkat kerja C Couple Difinal pemancar yang fungsinya MENERUSKAN sinyal RF dan MEMBLOK sinyal DC(Power Suply).Apa jadinyan bila C ini jebol/tembus? Bgmana Mas Win,Comen donk!

    BalasHapus
  27. Persoalan tentang adanya Condensator dalam antena Gamma Match dan T match,sudah terang benderang mas,tolong jangan dibahas lagi. Saya ada dalam kesimpulan begini,kita memang sudah kesiangan mengenal teknologi RF,jadi latar belakang dan kedalaman ilmu yang berbeda terkadang menimbulkan banyak tafsir,sekarang tanggung jawab kita katakan yang tahu2 saja,mengingat kesalahan analisa yang tidak berdasar berdampak pada kesalahan penafsiran berikutnya,padahal RUMUS RESONANSI TDK BERUBAH dan TDK AKAN BERUBAH.

    BalasHapus
  28. RATA-RATA RANGAKIAN FINAL PEMANCAR PAKAI COUPLE CONDENSATOR,SBLM LOW PASS FILTER YANG BERIMPEDANSI 50 OHM,OUTPUTNYA JADI COMPATIBEL DGN ANTENA BAIK DC GROUNDING MAUPUN AC CONECTING.PEMBUAT ANTENA diuntungkan OLEH DESAIN INI HINGGA BEBAS MEMILIH DC GROUNDING ATAUKAH AC CONECTING. JADI BUKAN SEBUAH KARYA SENI YANG MENGAGUMKAN ATAU MENJADI PATOKAN SENIORITAS PERANCANG ANTENA,MELAINKAN HANYA SEBUAH KONSEP TEKNIK YANG MEMANG HARUS SELARAS ANTARA PEMANCAR DAN ANTENA,KEUNTUNGAN DC GROUNDING LEBIH KEBAL PETIR (sampai taraf tertentu)KELEMAHANNYA ADALAH BILA CONDENSATOR PADA FINAL SHORT/JEBOL MAKA BISA DIPASTIKAN PEMANCAR JADI OFF, DISINILAH POKOK PERSOALAN YANG MENDASAR KENAPA ANTENA DC GROUNDING BISA KERJA KARENA JASA SEBUAH CONDENSATOR COUPLE PADA FINAL PEMANCAR,SEKALIGUS UNTUK MENEPIS KALAU C JADI HAMBATAN BAGI RF. DISISI LAIN,TERKADANG PEMBUAT ANTENA TERBUAI BERLEBIHAN TERHADAP KARYA CIPTANYA TANPA PERNAH SECARA KONTINYU MENDALAMI/MEMBUAT PEMANCARNYA,JADI HANYA TERUNGKAP DARI SISI RUTINNYA SAJA.TERJUNLAH DIDUNIA PEMANCAR! DISANALAH NANTI TERUNGKAP
    L(INDUKTANSI) C(CAPASITANSI) AKAN BEKERJA SAMA...........

    BalasHapus
  29. sebagai bahan pertimbangan mari kita lihat rangkaian audio amplifier antara OTL (menggunakan C coupling) dan OCL (DC coupling), khan nggak ada masalah alias nggak ada bedanya ketika dibebani dengan loudspeaker 8 OHM misalnya. akan bermasalah jika terjadi kerusakan pada amplifier, sehingga mengeluarkan tegangan DC, terjadi short pada spoel loudspeaker. Dan terbakarlah spoelnya.
    itulah bedanya Impedansi dan resistansi DC(baca: resistansi yang diukur dengan OHM meter )
    thanks

    BalasHapus
  30. Sekarang terukur jelas kalau mas Win lebih MUMPUNI dalam membaca konsep teknik. Bagi saya pribadi bersikap KOREKTIF adalah suatu warisan terhadap generasi penerus/pecinta teknik. Bila kita terlalu maklum terhadap ungkap individu,sementara KONSEP RUMUS TANGGUNG ,maka bisa kita tebak,generasi penerus kita TERSESAT/BINGUNG.
    Untuk itu,mengungkap pengalaman praktek TETAP BAIK ADANYA adanya,tapi KESIMPULAN YANG TANGGUNG dan salah persepsi,jelas jadi bias dan KONTRA PRODUKTIF. Padahal yang membaca forum kita dari segala latar belakang dan segala tingkatan. USULAN SAYA,pertanyaan yang diajukan diforum ini oleh pemaca BISA DIMUAT LANGSUNG,Jawaban DISENSOR dulu dengan sistem redaksional oleh Tim MAS WIN dkk,jadi jelas akurat,terkonsep.Insya Allah forum ini akan jadi ajang diskusi yang qualified dan JADI SOLUSI buat sebagian teman kita yang kesulitan cari WAY OUT.Kira2 demikian komentar saya Mas Win,Salam dan Hormat saya untuk mas Alex,Trois,Bolis ,Smile dll yang gak mau sebut nama. Terima Kasih,MICHAEL ADRIAN purwokerto.

    BalasHapus
  31. T MATCH dan GAMMA MATCH besar mana gainnya?
    Kalau kita cermati,T MATCH antena dan GAMMA MATCH antena konstruksinya sekarakter,hanya saja pada T MATCH dua sisi berenergi listrik/dialiri signal. Konsekuensinya tentu areal lubang yang ditinggalkan pada GAMMA MATCH akan lebih terisi/padat energi listriknya hingga memungkinkan rating power meningkat,disinilah dirasa kalau T MATCH antena lebih besar gainnya. Konsekuensi lainnya gain yang ada disebelah kanan tentu juga hampir sekarakter dgn yang terjadi disebelah kiri,hanya saja terjadinya pemasangan dua step input yang saling berjauhan menjadikan impedansi naik. Pemasangan Kabel RG 8 setengah lamdha punya peran ganda ,sebagai pembalik fasa sekaligus penurun impedansi.Karena T MATCH adalah DUAL GAMMA MATCH,maka menggunakan dua shorter yang identik utk kiri dan kanan.Peran shorter yang bersifat kapasitif/condensasai,antena ini termasuk AC Conecting. Mudah mudahan logis untuk semua,Mas Win salam dari Banyumas yah.

    BalasHapus
  32. kalo yang saya tahu dan pernah lihat milik tetangga yg pake pengarah untuk 2m memang tidak ada c jadi kalo dites pake avo ya nyambung antara inner n ground. untuk matching tinggal geser2 shorter saja dan mengatur panjang elemen. memang bisa match n juga mempunyai daya pancar yg bagus.

    BalasHapus
  33. Mas win,sebenarnya gamma Match itu DC Grounding atau AC conecting to? Apa betul antena pengarah yang pakai shorter/gamma match itu nyambung,makasih untuk pencerahannya.
    Apa betul gamma Match yang diisi inner RG 8 itu seperti condesator? Terimakasih untuk pencerahannya.

    BalasHapus
  34. eh pak wedus gembel/ Alex dimana sih blognya sampean? saya kok gak bisa menemukannya. pake link diatas kok masuknya ke profile

    BalasHapus
  35. Untuk balunnya t-match kalo pake rg58 panjangnya berapa pd f=85 MHz. apa perlu dikalikan velocity factornya rg58 yg 0,68 itu?

    BalasHapus
  36. @ Sabar:
    0,5 lamda dikali Velocity factor. 0,66 untuk dieletrikum polyethelene dan 0,82 untuk FOAM

    BalasHapus
  37. Trois..... Itu gamamatch yang inner RG 8nya dari antena pengarah tetanggamu itu ujungnya buntung apa disambung? Setahuku buntung mas.

    BalasHapus
  38. lho, antenanya pake t-match bukan gamma match jadi ya gak pake inner rg-8

    BalasHapus
  39. Buat trois,mungkin T Matchmu beda skema dgn gambarnya Mas Win!/skema diatas,sbb T Matchnya yg digambar Gamma Rodnya 2,yang dalamnya pakai....

    BalasHapus
  40. pak win saya mau nanya2 ciri2 dielektrikum polyethelene apa yg agak beningkah . trims

    BalasHapus
  41. @ Arif:
    betul Mas arif, lebih kenyal kekuningan. Dan foam berwarna putih kayak gabus. lihat dielektrikum kabel TV 75 OHM sekarang rata-rata menggunakan foam
    thanks

    BalasHapus
  42. pak win mau nanya lagi untuk antena dipole gamma match panjang gamma rood, jarak gamma rood dgn driver elemen, dan panjang iner rg 8 yang dimasukkan gamma rood apa sama untuk semua frekuensi dan bagaimana cara penghitunganya? trims ( maaf pak orang bontang ini banyak2 nanya maklum lg pemula)

    BalasHapus
  43. P win>:saya punya antena jempro lokal dan pakai RG 8, tapi saya kesulitan untuk mencari titik ipedansi SWR,kita dulu di 105Mhz,sekarang kita geser frekw 96.klu dihitung sama praktek tidak bisa,tolong donk di bantu?trims

    andigloria@yahoo.com

    BalasHapus
  44. @ arif:
    tiap frekuensi berbeda-beda, kecuali jarak gamma rod dengan driven ( tetap sekitar 5 cm ). kita harus meng adjust pelan-pelan sampai didapat SWR terendah.
    sebagai perkiraaan kasar, inner RG-8 yang dimasukkan sekitar 2/3 bagian dari panjang aluminium gamma rod.

    BalasHapus
  45. untuk rumus pencarian panjang gama rod pake panjang gelombang bagaimana pak win rumusnya , trims

    BalasHapus
  46. walaupun impedansinya 50 ohm belum tentu swrnya 1.0 karena itulah gunanya c variable

    BalasHapus
  47. Jadi bingung....? Sebenarnya blog ini dibuat Pak Win utk menampung aspirasi para homebrewer, berbagi pengalaman dan ilmu dunia RF. It's Ok~lah masing masing punya pendapat maupun argumen tapi janganlah mendeskriminasikan seseorang atau hasil produk seseorang. Terus terang saya pribadipun masih banyak belajar dan sangat berterima kasih sama Pak Win dgn adanya blog ini saya bisa banyak belajar dari pengalaman rekan rekan disini yg menyukai dunia RF. Karena menurut saya "Pengalaman adalah Guru Yang Paling Baik!"

    BalasHapus
  48. Pak Win komentar yang tidak relevan dengan rf sebaiknya di banned saja
    kalau usul saya ini tidak ditanggapi,pak Win tak telephone langsung lho...

    BalasHapus
  49. Mohon maaf, mungkin terlalu sibuk, jadi saya tidak bisa mengecek/mengontrol tiap-tiap komentar yang masuk. ( sekedar info, untuk mengecek komentar yang masuk di tiap-tiap postingan rata2 butuh waktu 2-3 menit)
    Lha jumlah postingan sekitar 25, maka sekitar 1 jam lah waktu untuk ngecek komentar.
    itu untuk satu BLOG, misalnya blognya 5 biji waduh nggak kebayang deh..

    Tapi itu tak masalah...
    Majulah homebrew Indonesia..

    Catatan: Dimohon agar teman-teman berkomentar tentang TEKNIK RADIO and RF aja Yaaaaa..

    salam

    BalasHapus
  50. WARA-WARA-WARA-WARA-WARA-WARA:Dimohon agar teman-teman berkomentar tentang TEKNIK RADIO and RF aja Yaaaaa..

    BalasHapus
  51. pak win. untuk balun T.MATCH kalo pakai RG11 bisa ndak ya??? trims

    BalasHapus
  52. bpk win,minta tolong rumus bikin balun dan gamma macth,masih pemula mohon bantuan rekan2,matur nuwus

    BalasHapus
  53. pakai kabel kitani (kabel TV)saja kalau mau buat balum 1/2 lambda. kalau untuk power yang kecil itu juga bisa kok. 75 ohm juga, sama dengan RG11.

    BalasHapus
  54. Pak win mau tanya soal T-Match. saya mencoba membuat cushcraft 26B2, kalo kabelnya menggunakan RG-8 9913 Velocity 0.84 (kalo salah mohon di koreksi) berapa panjang untuk balunnya, maaf saya belum mengerti rumus : 1/2 lamda X Vf apakah yang dimaksud adalah 0,5 x 0,84 = 42 cm. (bermain di frekuansei 144.500 MHz)
    Untuk membuat balun apakah harus sama dengan kabel yang kita gunakan dengan kabel dari antena ke pesawat.
    Kalo ada dua beam bagaimana cara menggabungkan kabel dari kedua beam untuk di teruskan ke ke pesawat.
    Terima kasih sebelumnya tolong di kasih gambar yang jelas, saya sangat membutuhkan, maklum masih sangat awam mau beli yang asli nggak punya dana cukup.

    Lebih jelasnya mohon jawaban di reply ke alamat : moedzy@gmail.com

    BalasHapus
  55. Wah klo 1/2 Lambdanya frekuensi 144.5 MHz, dengan coaxial RG8 9913 ya kurang pas alias keliru.

    untuk Frek 144.5 MHz.

    Diketahui :

    Frekuensi (f) = 144.5 MHz)
    VF RG8 Belden 9913 = 0.84
    Cepat Rambat Gelombang electromagnetic diudara = 300 x 10^6 = 300 M (km/s)

    Ditanya : 1/2 Lambda dari frekuensi 144.5 MHz adalah??

    Jawab : 1/2 Lambda = (C/2*F)*VF

    = (300M/2*144.5 MHz)*0.84
    = (300/2*144.5)*0.84
    = 0.87197 m
    = 87.197 cm
    = 87.2 cm

    Jadi Panjang balun 4:1 di Frekuensi 144.5 MHz, dengan coaxial cable, belden 9913 adalah = 87.2 cm

    BalasHapus
  56. Kecepatan rambat gelombang elektromagnetic bukan 300 M (km/s) tapi 300 M (m/s) atau 300 K (km/s)

    M = Mega (dikalikan 1000000)
    K = Kilo (dikalikan 1000)

    BalasHapus
  57. Kalo kita menggunakan 2 beam atau 2 sirip maka ada dua T-Match untuk menggabungkan ke dua T-Match ada yang menggunakan Harnes atau PD (Power Devider) apakah ada rumus tertentu untuk membuat harnes atau PD atau hanya menggunakan sembarang kabel saja sudah cukup.

    Mohon pencerahannya

    Satu lagi untuk membuat driven dan gama rod apakah ada rumusnya yang saya maksud panjangnya dan ukuran diameternya.

    Trims.

    BalasHapus
  58. Maksudnya mau bikin yang dua stackkah? Ada rekan yang menyarankan pake PD, tapi Dari ARRL HANDBOOK Antenna Project menyarankan pake T connector, kabel yang satu ke antenna kiri, dan yang satu lagi ke antenna kanan. dengan panjang kabel 75 ohmnya kelipatan ganjil 1/4 Lambda. bisa 1/4, 3/4, 5/4, dst.

    ARRL HANDBOOK Said :

    "One method for feeding two 50-Ω antennas, as might be used in a stacked Yagi array, is shown in Fig 20.96. The transmission lines from each antenna, with a balun feeding each antenna (not
    shown in the drawing for simplicity), to the common feedpoint must be equal in length and an odd multiple of a quarter wavelength. This line acts as an quarter-wave (Q-section) impedance
    transformer and raises the feed impedance of each antenna to 100 Ω. When the coaxes are connected in parallel at the coaxial T fitting, the resulting impedance is close to 50 Ω."

    Kalau ukuran Gamma rod open aja di sini :

    http://txfm.blogspot.com/2008/05/antenna-fm-circular.html

    Prof.DR. Ir. Yahsun, Btk, M.Sc. Ph.D

    BalasHapus
  59. Apa bedanya PD dengan T Konektor ? kalo melihat bentuknya sepertinya mirip.
    Kalo menggunakan T Konektor, kenapa harus yang 75 ohm bukankah setelah di kasih balun sudah menjadi 50 ohm, maaf masih bingung.....
    Kalo pake PD rumusnya bagaimana ?

    Satu lagi.... untuk membuat kabel jumper ukuran panjannya yang pas bagaimana ? apa menggunakan rumus 0,5 lambda. misalnya jumper untuk swr, dll.

    BalasHapus
  60. @All yang membutuhkan :

    Antara PD dan T Connector secara fisik memang beda, tapi secara fungsi sama saja mas moedzy, yaitu sebagai pembagi RF power dari 1 Tx ke 2 antenna atau lebih, yang SE IDENTIK atau se tipe. tapi biasanya PD digunakan oleh rekan2 yang suka maen broadcasting.

    Jika T connector biasanya sering digunakan oleh rekan2 yang suka bilang JAGO JAGO JAGO STOPPP…. HOPPPPPP......!!!! Hehehe… Tapi juga ada yang menggunakan PD, seperti yang sering dipake untuk broadcasting system.

    Kalo Pada T connector mengapa menggunakan coax 75 Ω, alasannya begini, uraian diatas sebenarnya sudah ada, cuman ga disebut 75 Ω nya dan kurang detail juga.

    Untuk Memfeet/ menggabungkan/ Menstack 2 Antenna yang sejenis dan masing-masing 50 Ω, dengan menggunakan kelipatan ganjil ¼ Lambda x VF coaxial cable 50 Ω secara pararel maka akan didapatkan impedansi 25 Ω (50//50 = 25 Ω). Kemudian nilai impedansi coaxial yang digunakan sebagai Phasing line atau impedance transformer adalah = akar (50x25) = 35.35 Ω. Jadi kita membutuhkan coaxial cable dengan nilai impedansi sebesar 35.5 Ω. Caranya bisa dengan mempararelkan 2 coaxial 75 Ω (75//75=35.7 Ω mendekati 35.5 Ω). Tapi repotkan jika mempararel 2 coaxial 75 Ω

    Cara lain yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan Power Divider (PD), 1 input 2 Output. Cara agar PD 1 input 2 output bisa digunakan sebagai transformer 25 Ω ke 50 Ω, dibutuhkan Impedansi 35.5 Ω. Ada sedikit formula buat pendekatan.

    Jarak antara connector input dengan connector output ¼ Lambda x 0.95. Nilai Impedansi yang dihasilkan tergantung RASIO antara Diameter luar konduktor luar (D) terhadap Diameter luar inner konduktor dalam (d). Nilai Impedansi yang terbentuk adalah Zo= 138 Log (1.08 * (D/d)).

    Misal D=25 mm dan d=15mm, maka Impedansinya, Zo=138 Log(1.08*(25/15))= 35.23Ω, mendekati 35.5 Ω. Dan PD siap digunakan sebagai imedansce transformer dari 25 Ω ke 50 Ω menuju Tx melalui Feed Line 50 Ω. Nilai D dan d bisa disesuaikan dengan di coba2 dihitung agar Nilai impedansinya ketemu mendekati 35.5 Ω dan bahannya juga mudah didapet dipasaran.

    Gambar tentang PD, baik yang 1 input 2 out, maupun yang 1 input 4 out, bahkan ada juga yang 1 input 6 output ( yang 6 blm ada), ini ada di blognya Om Ahim disini :

    http://www.geocities.com/inoor_9000/pages/Galeri10.html

    Penggunaan diatas jika menggunakan coaxial 50 Ω sebagai Phasing Line dari masing masing Antenna kiri dengan kanan, atau atas dengan bawah dengan Power Divider System.

    Akan tetapi jika kita mempergunakan kelipatan ganjil ¼ Lambda x VF, dengan Coaxial 75 Ω sebagai Phasing Line/Phasing harness. Dan menggunakan T connector, Berikut penjelasan dan alasannya.

    Fungsi dari phasing line kelipatan ganjil ¼ Lambda x VF, coaxial 75 Ω adalah untuk mentransformasikan/menaikkan feed impedance Antenna 50 Ω ke impedansi 100 Ω, setelah terbentuk nilai impedansi 100 Ω. Kita koneksikan antara phasing line kiri dan kanan ke T Connector secara pararel, sehingga menghasilkan impedansi 50 Ω seperti semula (100//100=50 Ω) seperti yang kita inginkan. Dan siap di feed line dengan coaxial 50 Ω menuju Tx.

    Kenapa harus 75 Ω ??????

    Ceritanya begini neh, untuk mentransformasikan dari 50 Ω (Antenna) ke 100 Ω maka nilai impedansi phasing line yang dibutuhkan adalah Zo = Akar (50*100)= 70.71 Ω. Jadi kita membutuhkan coaxial kabel dengan nilai impedansi 70.71 Ω.

    Akan tetapi coaxial cable dengan nilai impedansi 70.71 Ω IS NOT AVAILABLE alias SUSAH, bahkan mungkin tidak ada dipasaran. Sehingga kita ambil pendekatannya dengan memanfaatkan coaxial 75 Ω sebagai gantinya. kira kira demikian Rekan rekan Hombrewer semua.

    CMIIW..


    Salam Ngoprekkk dari Nganjoex City,

    Prof. Ir. Muhammad Yahsun, Btk. M.Sc., Ph.D

    BalasHapus
  61. @Moedzy & All yang membutuhkan:

    Untuk masalah Jumper, menurut HEMAT saya tidak ada ukuran yang pasti, tapi yang saya pake mempergunakan ¼ lambda x VF. Atau kelipatannya. Seperti kata Mas Joko Gondrong di sini http://txfm.blogspot.com/2008/05/antenna-fm-circular.html.

    Alasan saya mirip dengan Mas Gondrong yaitu kabel coaxial dari pabriknya sono sudah di design 50 Ω, jadi ga perlu repot-repot ngitung kaya diatas. Sama halnya jika sampean menggunakan antenna yang sudah 50 Ω kemudian sampean juga mempergunakan kabel 50 Ω untuk memfeednya. Dan jika kita menggunakan Jumper untuk SWR, SWR kita kan input output impedansinya sudah 50 Ω, jadi kita ga perlu repot repot menyesuaikan. Dengan ngitung panjang kabel jumper. Eman kalo dipotong seperti kata Mas NAFF, jadi korban MUTILASI katanya.. hix hix hix.

    Semoga bisa membantu rekan-rekan homebrewer dan para breaker yang lain.

    CMIIW..!!


    Salam Ngoprekkk dari Nganjoex City,


    Prof. Ir. Muhammad Yahsun, Btk. M.Sc., Ph.D


    * Note : BTK = Botak keren :)*

    BalasHapus
  62. Ralat sedikit :

    Jumper 1/4 Lambda x VF atau kelipatan ganjilnya. atau yang penting SWR bisa 1:1.

    Salam,

    Prof. Ir. Muhammad Yahsun, Btk. M.Sc., Ph.D

    BalasHapus
  63. saya juga menulis artikel soal kabel dll, silahkan mampir

    http://radiodantvtransmitter.blogspot.com

    biar ga ribut..kita buktikan...sama sama..
    saya ga akan ngomong hanya dengan teori, biar puas kita buktikan sama spectrum..jg cuma swr,mfj dll..namanya belajar.. cari yg bener to..disini juga banyak yg jago jago..opo malah babon babon..

    BalasHapus
  64. @Om Toil: Wes mari tak baca Om, juga udah tak link ke blognya panjenengan. Mangsatabb.


    Salam terbaik dari Nganjuk City.

    Prof.Ir. Muhammad Yahsun, Btk. M.Sc. Ph.D

    BalasHapus
  65. Tengkyu sampun mampir...Prof...Jadi menyikapi masalah Teknik enaknya kan perlu adanya alat ukur pendukung yang akurat buat membuktikan..monggoh lanjut lagi...sambil ongkang ongkang sikil..

    BalasHapus
  66. @Om Toil:

    Betul, memang kalau ingin belajar lebih dalam teknik, harus ada kombinasi antara teori dan technical, dan kalo bisa beserta alat ukur yang akurat. Jangan hanya setengah setengah (seperti saya, hehehe...), baca teori Oke, tapi kalo bisa juga harus praktek. Demikian juga sebaliknya, praktek saja juga boleh, karena pengalaman adalah guru terbaik, tetapi juga harus diimbangi dengan pengetahuan biar kalo ada rekan yang blm tau bisa menjelaskan berbagi ilmunya, dan yang paling penting biar ga bilang POKOKNYA begitu dan begini.. :))

    Ongkang ongkang sambil nyedot Samsuuuu.. Mangstabbb bangett.

    Selamat berexperiment para Homebrewer.

    Salam,

    Prof. Ir. Muhammad Yahsun, Btk. M.Sc., Ph.D

    BalasHapus
  67. iya bener om yahsun, teori harus dibarengi dg praktek klo ga teori mantap tapi disuruh nyolder aja sampe gemetaran hahaha....

    BalasHapus
  68. Prof.yahsun ini tmbah lama tambah pinter n hebat ya?.
    Salam alumi ITS

    BalasHapus
  69. Tanya kepada semua yang punya informasi.

    Untuk kabel jenis andrew heliax yang di jual atau yang ada di pasar indonesia type apa saja dan dimana belinya.
    Terima kasih infonya, maklum di jember tidak ada toko yang menyediakan kabel jenis itu dan disini minim informasi.

    Mujianto

    BalasHapus
  70. Dan type yang cocok kalo hanya untuk antena vertikal yang ukuran berapa 1/2", 5/8". 7/8" atau ada ukuran lain yang lebih sesuai.

    Mujianto

    BalasHapus
  71. Untuk kabel Andrew banyak jenisnya dan typenya..ada type heliax LDF4-50A (1/2") LDF4.5-50A (5/8") LDF5-50A (7/8") LDF6-50(11/4") dan masih banyak lagi jenisnya..Kalau mau beli gampang..dipasaran banyak..beli sama saya juga bisa hahaaa..untuk harga pasti harga bersaing..(kok malah jualan ya!)

    BalasHapus
  72. Wah kalo cocok ga'nya, tergantung rating power yang kita gunakan tentunya. kalo sampean pake power menengah sekitar 3 kW sudah cukup untuk LDF4-50A (1/2"), dari datanya kan untuk frek 100 MHz maksimal 3.52 kW.

    Tapi lebih aman jika sampean pake LDF4.5-50A (5/8") atau LDF5-50A (7/8"). Tapi kalo cuman untuk power 300 Watt aja pake LDF1-50 (1/4") aja lebih dari cukup atau LDF2-50 (3/8"), atau klo pengen murah pake aja RG8 belden 9913 (Power < 500 Watt Continue). kurang lebih rating power yang saya sebutkan untuk frekuensi sekitar 100 MHz.

    Sebagai acuan semakin tinggi frekuensi rating power semakin turun.

    Klo yang deket jember, coba aja dateng ke surabaya. pasar genteng lantai 2 kan banyak yang jualan. tapi harga standard. kalo pengen murah ya ke pasar maling (DEMAK). tapi harus pinter2 milih kabel dan dicek bener. ada yang putus ga, dan resiko kabel suah dalam kondisi aus juga tetep ada, namanya juga barang second. Kalo kebetulan pas lagi mujur ntar dapet kabel yang ok, tapi harga murah.

    Apalagi klo sampean bisa bahasa madura. wah be'en (sampean) bakalan enak naware, kan serasa serumpun..

    Matur sakalangkong alias terimakasih :))

    Salam Ngoprek,
    Prof. Ir. Muhammad Yahsun Btk., M.Sc., Ph.D

    BalasHapus
  73. To : Om Yahsun

    Terima kasih atas Infonya kalo boleh saya minta no HP nya untuk kepentingan lebih lanjut.

    Kalo saya pake yang 1/2" atau 5/8" bolehkah disambung dengan kabel Jumper 1/4 lambda misalnya dengan kabel Teflon RG-142 supaya ke pesawat Rignya tidak terlalu repot.

    Terima kasih atas berkenan untuk no HP nya.

    Mujianto (HP. 08113504069)
    E-Mail : moedzy@gmail.com
    >Jember

    BalasHapus
  74. eh.... maaf maksud saya No HPnya Om Toil, mau nanya seputar kabel Heliax daripada ke surabaya kan mendingan kalo bisa di paketkan, hehehe....

    Mujianto

    BalasHapus
  75. no. hp; 085714600082
    blog ; http://radiodantvtransmitter.blogspot.com
    ga cuma heliax saja yg ada...(tx tv,radio,alat ukur textronix juga sedia) built up...di lanjut di nomer atas saja ya..nanti malah promo disini..maaf maaf...hehee...

    ukuran Cable memang harus sesuai dengan kebutuhan...ngapain pakai gede-gede kalau misal powernya 100watt..kalau yg skala power >150kW lebih pas pakai waveguide/rigid...tv broadcast pada pakai waveguide/rigid.

    BalasHapus
  76. Trims, bung Toil

    Aku juga posting yang sama di blognya sampean ada di topik "haruskah kabel di match ?"
    bahkan sudah saya print dan saya tunjukkan pada teman. wah.... hasilnya saya di tentang setengah mati bahkan saya di ajak ngematch kabel pake MFJ-269 buat main di frekuensi mana !!
    Karena saya kurang pengetahuan, alhasil saya hanya bingung dan bingung.
    hik hik hik

    Mujianto

    BalasHapus
  77. TO; MUJIANTO

    BOSS JEMBERNYA MANA

    BalasHapus
  78. Mujianto : Rambipuji - Jember

    eh maaf ini siapa Boss

    BalasHapus
  79. To; mujianto
    saya semprul mojokerto

    BalasHapus
  80. cak semprol riko kenal wak themo lamongan ta?

    BalasHapus
  81. to mujianto

    ditanya malah tanya??

    BalasHapus
  82. to; mujianto

    kalo malam sering ktemu ndhemo lamongan, di 81.7mhz

    BalasHapus
  83. olaah tonggone enyong toh ternyata....

    Salam kenal
    ujang, radio kuntek sak welase..

    BalasHapus
  84. tolong kasi penjelasan dong bagi yg ngerti... apakah gamma match bisa d gunakan untuk segala arah (omni directional)? kalau bisa bagusan mana antara dengan open dipole?

    BalasHapus
  85. menurutku bisa aj gamma match dipakai segala arah dan penguatanyya lebih bagus dari pada open dipole..

    BalasHapus
  86. salam dikokopi buat pak semprulllll mojokerto....... dari: kang warso malang.........pentung.....pentung.....

    BalasHapus
  87. sudahlah kalau kagak mau pusing tlp aja ke08122489488 pa jefri nama obatnya open dipole grounding vswr broadband dari 87,5 - 108 mhz gain 2 db kaga usah punya swr di jamin apalagi untuk mosfet ama aaaaaaaaaaaan

    BalasHapus
  88. Kami orang awam dlm hal antena
    Saya ingin tahu gimana cara pemasngan dengan balun antena yagi dengan elemem melingkar seperti elemen pada antena tv vhf dulu,untuk ground dipasang dimana bila kedua ujung antena sudah dipasng dengan balun.
    demikian terimakasih

    BalasHapus
  89. maaf untuk yang td adalah antena penerima
    makasih

    BalasHapus
  90. Salam sejahtera.....

    Mas saya mohon bantuan masalah teknis radio amatir
    Saya punya IC2200H pada awalnya normal hanya Finalnya sudah tidak maksimal lagi.
    Dan sekarang sinyalnya tidak bisa bersih alias selalu ada kadang 5 bar kadang 9 bar
    meskipun frekuensi dalam keadaan kosong atau tidak ada TX/RX.
    Bahkan setelah kabel antena saya lepas hanya memakai jumper sepanjang 40 cm
    sinyal masih ada 5 bar dan kalo inner kabel antena di pegang sinyalnya terlihat penuh 12 bar.

    Untuk komunikasi RX/TX normal tidak ada pengaruh hanya saja karena sinyalnya yang
    tidak bisa bersih kadang saya bingung lawan bicara saya masih TX apa RX.

    Mohon bantuannya sekali lagi, kira2 kerusakannya di bagian mana ?
    Terima kasih atas bantuannya....

    Mujianto
    JZ 13 MKL

    BalasHapus
  91. beli aja yang baru moez.... berez kannn !!!!

    BalasHapus
  92. Mumet aku moco artikel ini . Soale aku ra ngerti....

    BalasHapus
  93. Ga Usah bingung, koyo' mikir negoro wae mas..

    BalasHapus
  94. bingung kaose diwalik mas

    BalasHapus
  95. pak win saya punya breket 4 bay, saya mau buat 5/8 lambda di prequensi 94.9 brapa yah ukurannya ?

    BalasHapus
  96. itung sendiri,

    Panjang whip (radiator)=(300/94.9)*(5/8)*0.95 (kasih lebih panjang +/- 20 cm.

    Radial = (300/94.4)*(1/4)*0.95

    Loading 6N (6 lilit) center tap ditengah. kawat +/- 2mm.

    Adjust dengan menggunaka swr yang bagus, bird, douglas atau Daiwa.

    BalasHapus
  97. antena yagi 13 elemen 2 stick dan smuanya dh met di frek 14.470.00 MHZ.yg sy tnyakan brp pnjng kber jumper tuk menstick 2 yagi trsbut dan cara hitungnya gmn/main met pakek swr terendah j.p hrus kbel nya rg 11/75omh,klu dignti rg8 bisa g.lebih baik pakek PD/conektor T j.pancaran sy boster tabung sekitan 800watt.tlng dong jwbanya,trim's

    BalasHapus
  98. Salam teman2

    Saya masih baru di hobby mengenai antenna dan pernak-perniknya... Mohon penjelasan teman2 mengenai instalasi antenna Diamond F23 ? Gimana cara settingnya misal digunakan bekerja di frequensi 145.500 MHz, yg harus di potong bagian mananya, batang tembaga-nya atau lilitannya? Klu di baca di spec-nya tertulis : 144 MHz - 146 MHz, artinya apa klu tdk dipotong batang tembaganya,bsa bekerja di frequensi 144 MHz-146 MHz secara sempurna? Baca di cuting chart-nya tertulis pd posisi 145 MHz nilai swr-nya 1 :1 Antenna F23 ini terdiri dri 3 batang, yg bagian paling atas kawat tembaganya bisa dilepas dri tubing fiberglassnya, bagian tengah jga bsa di lepas, nah yg bagian paling bawah,gak bisa dilepas. Katanya kalau mau setting ke tiga2 nya harus di potong di dikit2 ? Misal gk usah dipotong, lgs dipasang,apakah bsa di jamin aman bekerja di 144 - 146 MHz? maap yaa..banyak tanya,maklum masih baru gituuu....., ditunggu sharing teman2 di sini, mah kasiih

    Salam pemula

    Samid

    BalasHapus
  99. antena yagi 13 elemen 2 stick dan smuanya dh met di frek 14.470.00 MHZ.yg sy tnyakan brp pnjng kber jumper tuk menstick 2 yagi trsbut dan cara hitungnya gmn/main met pakek swr terendah j.p hrus kbel nya rg 11/75omh,klu dignti rg8 bisa g.lebih baik pakek PD/conektor T j.pancaran sy boster tabung sekitan 800watt.tlng dong jwbanya,trim's

    ============================================
    Males baca Threads yang lama ne, ga mau susah coba traceback donk mas..

    BalasHapus
  100. bos..klo untuk radio komunitas pake antena yg pling cocok pke antena apa ya?yg kira2 jangkauannya 20-40 KM.?hendra subang

    BalasHapus
  101. antena yang cocok untuk tr 2sc2694 antena jenis apa ya pak untuk broudgus? salam kenal Andre karanganyar.

    BalasHapus
  102. silahkan untuk sharing'' bisa juga berbagi pengalaman dg saya ansori 085645500453

    BalasHapus
  103. kalau T-match dengan Gamma Match, lebih bagus mana?

    BalasHapus
  104. pak win, rumahnya jombang mana? biasa ngebrik jg gak pak, teman teman 3 meter jombang ada yg buat repeater Di wonosalam kah pak..

    BalasHapus